Jam animasi XII IPA 4
11296 Herdiani
Direct Link: http://Herdii.fileave.com/Herdiani.fla
.Pak..maaf baru upload sekarang.
nilai yang baguz ya pak.
makasiiii……..bapaknya baik deh…
blog that inspiring the reader
| S | M | T | W | T | F | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Dec | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ||
11296 Herdiani
Direct Link: http://Herdii.fileave.com/Herdiani.fla
.Pak..maaf baru upload sekarang.
nilai yang baguz ya pak.
makasiiii……..bapaknya baik deh…
Adobe Flash (dahulu bernama Macromedia Flash) adalah salah satu perangkat lunak komputer yang merupakan produk unggulan Adobe Systems. Adobe Flash digunakan untuk membuat gambar vektor maupun animasi gambar tersebut. Berkas yang dihasilkan dari perangkat lunak ini mempunyai file extension .swf dan dapat diputar di penjelajah web yang telah dipasangi Adobe Flash Player. Flash menggunakan bahasa pemrograman bernama ActionScript yang muncul pertama kalinya pada Flash 5.
Sebelum tahun 2005, Flash dirilis oleh Macromedia. Flash 1.0 diluncurkan pada tahun 1996 setelah Macromedia membeli program animasi vektor bernama FutureSplash. Versi terakhir yang diluncurkan di pasaran dengan menggunakan nama ‘Macromedia’ adalah adalah Macromedia Flash 8. Pada tanggal 3 Desember 2005 Adobe Systems mengakuisisi Macromedia dan seluruh produknya, sehingga nama Macromedia Flash berubah menjadi Adobe Flash.
Jumat, 8 Agustus, 2008 oleh Merry Magdalena
Layang-layang memang hanya mainan. Tapi jangan remehkan, sebab di masa depan mainan ini justru akan jadi pembangkit energi. Saat angin bertiup kencang dan layang-layang dikaitkan ke generator, maka kita bisa menikmati listriknya.
“Ini lebih sederhana dari turbin angin yang membutuhkan begitu banyak materi,” jelas pakar energi Moritz Diehl dari Catholic University di Leuven, Belgia. “Dengan menghemat materi, artinya lebih ekonomis.” Biaya yang diperlukan membuat pembangkit listrik dari layang-layang hanya seperempat dari kincir angin.
Hemat Biaya
Faktor utama dalam memanfaatkan angin sebagai energi adalah mengetahui apakah tekanannya akan memperkuat kecepatan objek yang bergerak relatif bersamanya. Untuk alasan ini, kincir angin memang menghasilkan tekanan lebih kuat, yakni 8-10 kali lipat kecepatan angin.
Sedangkan layang-layang mampu menghasilkan energi yang sama kuat dengan tekanan angin jika tidak didukung struktur khusus. Ini disebabkan layang-layang memancarkan tekanan melalui jalurnya langsung. Kecepatan itu juga sangat tergantung pada kecepatan angin. Diehl bersama timnya telah melakukan pemodelan pembangkit listrik tenaga layang-layang dan terbukti pembangkit ini cukup andal
Dengan terus menerus memompa sebuah layangan, Diehl dan kawan-kawannya berhasil menghasilkan listrik sebesar 5 megawat dari layangan seluas 500 meter persegi dengan panjang tali 1,3 kilometer. Selain hemat biaya, menurut Dhiel, layangan bisa menjangkau ketinggian lebih tinggi daripada kincir angin. Makin tinggi lokasinya, makin besar pula tekanan anginnya dan makin besar energi yang dihasilkan.
Kendala
Sementara itu tim ilmuwan dari Delft University of Technology di Belanda juga menciptakan ide serupa. Hanya mereka menerbangkan sejumlah besar layang-layang sekaligus dalam satu jalur seluas 10 kilometer di angkasa. Sistem ini sama kinerjanya dengan roda air. Sistem yang dinamakan Laddermill ini mampu menghasilkan listrik sebesar 100 megawat.
Semua ide tersebut memang cukup cemerlang, hanya tak semudah itu untuk mengomerslkannya. Masih ada beberapa kelemahan, seperti layang-layang bersifat tidak stabil. “Layang-layangnya kelamaan akan berukuran tambah besar dan banyak, dan bisa menelurkan masalah kebutuhan materi dan daya tahan,” komentar Bernhard Hoffschmidt dari Solar-Institute Jülich di Aachen University in Germany.
Diterjemahkan secara bebas dari Livescience.com
foto: indonesian.cri.cn
Eric the Red (lived about 950-1001), Norwegian explorer, the first European to explore Greenland and to found a colony there. His second son, Leif Eriksson, is believed to have been one of the first Europeans to reach North America.
Eric, whose patronymic was Thorvaldson, was called Eric the Red because of his red hair. When his father was exiled for manslaughter, Eric left Norway and the family settled in Iceland. in 1980-1981, faced with manslaughter charges himself, Eric decided to explore land sighted by his friend Gunnbjorn Ulfsson to the west of Iceland. The course Eric followed took him to the island he named Greenland. Returning to Iceland, he persuaded several shiploads of relatives and friends to join him in colonizing the new land in about 985. Because the eastern coast was sheathed in ice, he rounded Cape Farewell in the south and founded a settlement called Brattahlid. Others of his party established enother settlement near present-day Nuuk (Godthab). Both communities were on the western coast.
An injury prevented Eric from accompanying his son Leif on the voyage that eventually took him to Vinland (North America) in about 1001. He died the winter after Leif returned home. Another son, Thorvald, also visited Vinland.
Hanyut aku dalam gelak telaga
Terhanyut aku dalam ketenangannya
Aku tidak ingin menjadi hitam diatas pelangi
tak ingin juga menjadi noda merah dalam sucinya putih
Tak terasakah kau telah mencuri sesuatu itu
tak sadarkah kau telah menyeret sesuatu itu….
Sesuatu itu membuat sakit….
Begitu sakit…..
Begitu sakit hingga membuatku teriak jera
Tak taukah kau….
aku hanya tidak ingin menjadi hitam diatas pelangi